Bisnis Wedus Lebih Penting, Warga Pertanyakan Kinerja Joko Susanto dan Transparansi Desa Ketanggung

waktu baca 3 menit
Selasa, 25 Nov 2025 10:11 34 Redaksi

Cilacap, Mandalapost.id – Sejumlah warga Desa Ketanggung, Kecamatan Sampang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, mengeluhkan sulitnya menemui Kepala Desa (Kades) Ketanggung, Joko Susanto, di kantor desa. Mereka menyebut sang kades jarang masuk kantor, bahkan diduga lebih banyak mengurusi kepentingan pribadinya.

Menurut warga, situasi ini sudah berlangsung lama dan berdampak langsung pada pelayanan publik.

“Kalau ada urusan penting, kami cuma bisa ketemu perangkat desa atau sekdes. Itu pun jawabannya selalu ‘nanti saja sama pak kades’. Tapi pak kades jarang sekali ngantor,” ujar seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan, Senin (24/11/2025).

Warga lain menambahkan, Joko Susanto diduga sibuk mengurus bisnis ternaknya sehingga mengabaikan kewajibannya sebagai kepala desa.

“Menurut keterangan warga, pak kades sibuk bisnis wedus. Jelas saja dia sibuk terus dan akhirnya mengabaikan tanggung jawabnya,” ungkapnya.

Dugaan Doktrin: Perangkat Desa Dilarang Dekati Wartawan

Tak hanya soal kedisiplinan, warga juga mengungkap informasi mengejutkan. Mereka mengaku bahwa Joko Susanto memerintahkan perangkat desa untuk menjauhi wartawan.

“Perangkat dilarang dekat wartawan. Kalau dapat nomor wartawan, harus diblokir,” kata sumber warga lainnya.

Saat wartawan mencoba meminta klarifikasi langsung di kantor desa, benar saja—Joko Susanto tak berada di tempat. Wartawan hanya dapat bertemu Sekdes Ketanggung Yulia Fathul Hidayah, kaur keuangan, kadus, dan beberapa perangkat lain.

Namun, para perangkat desa terkesan enggan menjelaskan dan membenarkan bahwa kades memang jarang masuk kantor.

Bahkan muncul dugaan bahwa arahan menjauhi wartawan juga datang dari pejabat kecamatan.

“Itu arahan Sekcam (Plt Camat Sampang) juga, karena desa tidak ada anggaran untuk media,” ujar Sekdes, yang justru menambah tanda tanya baru.

Warga menganggap pernyataan tersebut tidak masuk akal, sebab keterbukaan informasi publik bukan bergantung pada ada-tidaknya anggaran.

Minim Keterbukaan, Laporan Pertanggungjawaban Dipertanyakan

Warga mempertanyakan mengapa pemerintahan desa terkesan tertutup dan menolak komunikasi.

“Kades aneh, tertutup. Layak ditelusuri LPJ desa selama ini. Jangan-jangan ada penyelewengan anggaran dana desa,” papar warga yang sebelumnya memberikan laporan ke wartawan lain.

Ada pula cerita lucu sekaligus janggal: Joko Susanto disebut pernah menyamar dan berpura-pura bukan kades saat bertemu wartawan.

“Kalau ada wartawan datang, dia bilang kadesnya nggak ada. Padahal ya dia sendiri. Mungkin wartawannya nggak kenal wajahnya,” ungkap warga sambil tertawa.

Pelayanan Terganggu, Warga Resah

Ketidakhadiran kades di kantor desa menyebabkan pelayanan masyarakat menjadi tidak maksimal. Bahkan warga menyindir:

“Kalau kantor desa dipindahkan jin kayak di film Aladin atau Jin & Jun, dia pasti bingung. Wong jarang banget ngantor.”

Warga juga heran mengapa Joko Susanto masih berniat mencalonkan diri lagi, sementara kedisiplinannya sebagai kades saja dinilai tidak mencerminkan komitmen pelayanan publik.

Arah Investigasi Menguat: Ada Apa di Desa Ketanggung?

Hingga berita ini diterbitkan:

Kades Joko Susanto belum dapat ditemui.

Upaya konfirmasi melalui telepon tidak berhasil karena nomor wartawan diduga telah diblokir.

Perangkat desa kompak tidak memberikan keterangan jelas.

Situasi ini menimbulkan dugaan bahwa ada sesuatu yang tengah ditutupi dalam penyelenggaraan pemerintahan desa, termasuk terkait:

Transparansi anggaran

LPJ tahunan

Penggunaan Dana Desa (DD)

Komunikasi publik dan keterbukaan informasi

Publik pun bertanya-tanya:

Ada apa sebenarnya di Desa Ketanggung?

Apakah sekadar masalah kedisiplinan?

Atau ada persoalan yang lebih besar?

Investigasi lanjutan akan terus dilakukan.

(Mbah Wasis)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA